Delapan Surah Al Qur’an Yang Wajib Dibaca Oleh Ibu Hamil

Delapan Surah Al Qur’an Yang Wajib Dibaca Oleh Ibu Hamil

 Bagi seorang wanita, mengandung adalah hal yang paling ditunggu setelah menikah. Ketika mengandung wanita menjadi lebih sensitif, mudah khawatir, cemas dan menjadi lebih waspada. Hal ini adalah wajar mengingat proses mengandung adalah awal lahirnya manusia ke muka bumi dan tentu saja segala harapan yang baik ada didalamnya. Banyak cara yang bisa dilakukan para calon ibu untuk mengurangi rasa cemas selama mengandung salah satunya adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara beribadah dan membaca kitab suci Al-Qur’an.
Ada beberapa surah dalam Al-Qur’an yang memang ditujukan untuk seorang ibu agar mendapatkan bayi yang sehat secara jasmani maupun rohani. Berikut ini adalah beberapa surah dalam Al-Qur’an yang jika dibaca dan diamalkan Insha Allah akan mendapat kebaikan dan pertolongan Allah selama mengandung sampai mendidik anak agar menjadi generasi yang sholeh dan sholehah.

1. Surah Al Fatihah

Al Fatihah adalah surah yang diturunkan di Mekkah terdiri dari 7 ayat. Surah ini jika diamalkan oleh seorang ibu yang sedang mengandung maka ia memiliki keutamaan sebagai penerang hati dan daya ingat yang kuat bagi bayi yang sedang dikandung. Dalam surah Al Fatihah terdapat ayat yang artinya: “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al fatihah ayat ke 5). Pada ayat ini jelas bahwa hanya Allah lah tempat meminta pertolongan, maka jika seorang ibu ingin anaknya senantiasa ditolong oleh Allah, disarankan untuk mengamalkan surah Al Fatihah selama mengandung.

2. Surah Luqman

Surah Luqman adalah surah ke 31 yang tergolong pada surah Makkiyah terdiri dari 34 ayat yang bercerita tentang bagaimana luqman mendidik anaknya. Pada surah ini digambarkan dengan jelas bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua sebagai mana yang terdapat pada salah satu ayat tersebut yang artinya “Wahai putraku, sesungguhnya sekalipun terdapat (kebaikan) seberat biji sawi yang berada di dalam batu atau di langit atau di bumi, Allah akan menghadirkannya. sesungguhnya Allah Maha Teliti, Maha Memahami. wahai putraku, dirikanlah shalat dan tekunilah kebaikan dan hindarilah kejahatan serta bersabarlah (tenang) terhadap yang menimpa dirimu, sesungguhnya yang demikian termasuk hal-hal yang diharuskan. dan jangan memalingkan wajahmu terhadap manusia dan jangan berlaku sembarangan di bumi. sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang congkak, berkeras diri. dan berjalanlah secara berhati-hati dan rendahkan suaramu. sesungguhnya suara paling kasar adalah suara keledai. (Ayat:12-19). Maka penting bagi para ibu untuk membaca surah ini, insha Allah bayi yang akan lahir kelak memiliki akal dan jiwa yang cerdik pandai.

3. Surah Al Hujurat

Surah Al Hujurat terdiri dari 18 ayat dan merupakan surah ke 49 dalam Al-Qur’an. Surah ini tergolong dalam surah Madaniya maksudnya diturunkan di Madinah. Keutamaan surah ini adalah jika diamalkan oleh ibu yang sedang mengandung, Insha Allah akan lahir bayi yang memiliki sifat berhati-hati dan tidak ceroboh. Selain itu dapat juga menambah air susu ibu. Karena setelah mengandung hal kedua yang diinginkan oleh seorang ibu adalah dapat memberi ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi.

4. Surah An Nahl

Surah An Nahl artinya lebah. Sebagaimana hidup lebah yang sangat disiplin mulai dari membuat sarang atau tebuan hingga mencari makan bersama-sama hingga menghasilkan madu yang berguna bagi kesehatan manusia. Belajar dari tata cara hidup lebah yang disiplin maka tidak salah jika surah ini dijadikan amalan ketika mengandung agar anak yang dilahirkan kelak memiliki jiwa disiplin dalam melakukan kebaikan dan berguna bagi orang lain.

5. Surah At Taubah

Seorang ibu yang membacakan surah At Taubah ketika mengandung Insha Allah akan dikaruniai anak yang dapat memelihara diri dari maksiat. Sesuai dengan arti dari At Taubah yaitu pengampunan. Maksudnya adalah sebagai seorang manusia hendaknya sadar bahwa segala kesalahan yang terjadi dalam hidup adalah karena ulah manusia itu sendiri dan Allah selalu membuka pintu pengampunan bagi mereka yang mau bertaubat.

6. Surah Maryam

Dilihat dari kisah Maryam yang mengandung anak tanpa memiliki suami dan tidak pernah melalukan hubungan suami istri tentu tidaklah mudah menjalaninya. Ketika itu Maryam yang mengasingkan diri karena dicerca oleh masyarakat memilih untuk meminta pertolongan hanya kepada Allah. Maryam meminta agar ketika bersalin ia memperoleh kemudahan dan melahirkan anak yang soleh jika ia laki-laki dan sholehah jika ia perempuan. Dengan izin Allah maka lahirnya Isa yang menjadi nabi dan rasul. Kisah ini dapat meninspirasi kita bahwa jika ingin memperoleh kemudahan saat melahirkan dan mendapat anak yang sholeh hendaknya membaca surah Maryam pada masa kehamilan.

7. Surah Yusuf

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa Nabi Yusuf adalah nabi yang paling elok paras rupanya. Nabi Yusuf sampai dicelakai oleh kakak-kakaknya karena merasa iri dengan ketampanan dan kecerdasan yang diperolehnya dengan izin Allah. Ketika seorang ibu mengandung tentu menginginkan semua yang baik bagi bayinya termasuk paras yang cantik atau tampan. Allah memilih surah Yusuf untuk diamalkan oleh calon ibu agar mendapat anak yang sesuai dengan keinginannya.

8. Surah Yasin

Jika seorang ibu menginginkan anaknya memiliki ketenangan hati dan jauh dari godaan setan, maka baik kiranya sering-sering membaca surah Yasin ketika dalam masa mengandung. Surah Yasin memiliki berbagai keutamaan yang salah satunya adalah menjauhkan seseorang dari godaan setan. Selain itu surah Yasin juga banyak diamalkan untuk kehidupan sehari-hari misalnya, ketika masuk rumah baru, shotal hajat dan sebagai bacaan selepas sholat.
Sumber Berita : http://www.dwina.net/2016/01/delapan-surah-al-quran-yang-wajibAnda Ingin Meng aqiqahkan Putra Dan Putri Anda?
Hubungi Tenaga Profesional Kami Dapur Aqiqah Untuk Mendapatkan Info Harga dan info lainnya di:
Telp. 085780267758, 081296581239
WhatsApp.085780267758 LINE.085780267758

Link : http://dapur-aqiqah.com/seputar-aqiqah/aqiqah-di-daerah-bekasi-085773745147/
Jumlah Hewan Aqiqah

Jumlah Hewan Aqiqah

Jumlah hewan aqiqah minimal merupakan satu ekor baik utk Laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan & Husain satu domba satu domba.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kita mesti ingat bahwa Hasan dan Husain adalah anak kembar. Jadi pada satu kelahiran tersebut disembelih 2 ekor kambing. Namun yg lebih utama merupakan 2 ekor utk anak Cowo dan 1 ekor untuk anak perempuan berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak Laki-laki dua ekor domba serta dari anak cewe satu ekor.” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yg artinya: “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah dari anak Cowo dua ekor domba yg sepadan serta dari anak gadis satu ekor.” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Anda Ingin Meng aqiqahkan Putra Dan Putri Anda?
Hubungi Tenaga Profesional Kami Dapur Aqiqah Untuk Mendapatkan Info Harga dan info lainnya di:
Telp. 085780267758, 081296581239
WhatsApp.085780267758 LINE.085780267758

Link : http://dapur-aqiqah.com/seputar-aqiqah/aqiqah-di-daerah-bekasi-085773745147/

Perihal Aqiqah, Kambing Jantan Atau Betina?

Perihal Aqiqah, Kambing Jantan Atau Betina?

Ingin Bertanya Perihal Aqiqah, Kambing Jantan Atau Betina? Apakah memang harus selalu jantan baik dalam kurban maupun aqiqah (akikah)?

Sebagian orang berpendapat bahwa hal ini tidak dibolehkan. Namun tentu saja rujukan kita bukan apa pendapat orang. Semuanya dikembalikan pada dalil dan perkataan ulama.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap bahimatul an’am (binatang ternak) yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (QS. Al Hajj: 34).
Asy Syairozi mengatakan, “Boleh-boleh saja berkurban dengan hewan jantan maupun betina.”

Lalu Asy Syairozi membawakan dalil dari Ummu Kurz, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Anak laki-laki hendaklah diaqiqahi dengan 2 kambing, sedangkan anak perempuan dengan 1 kambing. Tidak mengapa bagi kalian memilih yang jantan atau betina dari kambing tersebut.” (HR. An Nasai no. 4222 dan Abu Daud no. 2835. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Setelah membawakan dalil tersebut, Asy Syairozi rahimahullah mengatakan, “Jika dibolehkan jantan dan betina dalam aqiqah berdasarkan hadits di atas, maka sama halnya dengan kurban (udhiyah) boleh dengan jantan atau betina. Karena daging kambing jantan lebih enak (thoyyib). Sedangkan kambing betina lebih basah.” (Lihat Al Majmu’, 8: 222)

Imam Nawawi rahimahullah memberi keterangan pada penjelasan Asy Syairozi tersebut, “Syarat sah dalam kurban, hewan kurban harus berasal dari hewan ternak yaitu unta, sapi dan kambing. Termasuk pula berbagai jenis unta, semua jenis sapi dan semua jenis kambing yaitu domba, ma’iz dan sejenisnya. Sedangkan selain hewan ternak seperti rusa dan keledai tidaklah sah sebagai hewan kurban tanpa ada perselisihan di antara para ulama. Begitu juga sah berkurban dengan hewan jantan dan betina dari semua hewan ternak tadi.  Tidak ada khilaf sama sekali mengenai hal ini menurut kami.” (Al Majmu’, 8: 222).

Dari sini jelaslah, boleh atau sah-sah saja berkurban atau melakukan akikah dengan kambing atau sapi betina.

Anda Ingin Meng aqiqahkan Putra Dan Putri Anda?
Hubungi Tenaga Profesional Kami Dapur Aqiqah Untuk Mendapatkan Info Harga dan info lainnya di:
Telp. 085780267758, 081296581239
WhatsApp.085780267758 LINE.085780267758

Link : http://dapur-aqiqah.com/seputar-aqiqah/aqiqah-di-daerah-bekasi-085773745147/

Apa Hukum Akikah Ketika Sudah Dewasa?

Apa Hukum Akikah Ketika Sudah Dewasa?


AQIQAH BAGI ORANG DEWASA
Oleh
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman

Pertanyaan
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman ditanya : Hadits bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya setelah diutus sebagai Nabi dikatakan oleh Nawawi[1] bahwa hadits tersebut munkar karena kesendirian Abdullah bin Muharrar. Bagaimana komentar syaikh tentang perkataan itu?

Jawaban
Perkataan Nawawi telah didahului sebelumnya oleh perkataan Ibnu Abi Hatim dalam ‘Ilal Hadits. Maka selayaknya seseorang untuk menyandarkan kepada sumber aslinya. Pernyataan bahwa hadits ini munkar adalah perkataan Ibnu Abi Hatim dalam ‘Ilal Hadits menukil dari Abu Zur’ah ar-Razi, bukan dari ayahnya. Syaikh kami telah menanggapi perkataan ini dalam Silsilah as-Shahihah 6/502-506 no. 2726 dan beliau menshahihkan hadits ini. Oleh karena itu, saya kemarin mengatakan tentang hadits ini : “Dishahihkan oleh sebagian ahli hadits”. Itulah yang saya katakan dan saya tahu persis perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keabsahan dan kelemahannya sekalipun hati saya lebih cenderung untuk mengatakan bahwa hadits ini hasan. Untuk lebih detailnya dapat diperiksa Silsilah as-Shahihah juz 6 hal. 502-506.

Pertanyaan.
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan alu Salman ditanya : Bolehkah bagi seseorang yang belum mengaqiqahi dirinya untuk melakukannya tatkala sudah dewasa dan bagaimana pendapat syaikh terhadap orang yang membid’ahkannya?

Jawaban
Kita tidak mengatakannya bid’ah. Sebagian ahli ilmu telah mengamalkannya [2]. Aqiqah bagi orang dewasa boleh berdasarkan hadits diatas. Dan kapan saja terjadi perbedaan pendapat diantara ahli hadits lebih-lebih dalam masalah-masalah rumit seperti ini, hendaknya penuntut ilmu untuk menghargai perselisihan pendapat. Sehingga dia dapat memahami kapan dia mengingkari dan kapan dia membahas. Merupakan musibah sekarang ini –terutama pemuda dakwah salafiyah- mereka tidak mendalami ilmu syar’i, tetapi ingin menghukumi masalah-masalah rumit seperti ini yang belum ada keterangan yang jelas dari para ulama salaf. Jadi, perdalamlah ilmu syar’i terlebih dahulu dan jangan sibukkan dengan masalah-masalah rumit seperti ini.

(Disarikan dari soal jawab bersama beliau pada acara daurah di Lawang Jawa Timur 24-28 Rabiuts Tsani 1424H dengan beberapa tambahan seperlunya)

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 12, Tahun ke-II/Th 2003M. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
_______
Footnote
[1]. Teks perkataan Nawawi dalam al-Majmu (8/431-432) tentang hadits ini adalah : “Hadits ini bathil”, dan dinukil juga oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Talkhis (4/1498). Barangkali yang benar adalah Imam Baihaqi karena beliu mengatakan tentang hadits ini,”Munkar” sebagaimana dalam at-Talkhis juga.
[2]. Diantaranya adalah Imam Muhammad bin Sirin sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (8/235-236), Hasan al-Bashri sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (8/322). Inilah yang dipilih oleh Imam Ibnu Hazm dan syaikh al-Albani dalam as-Shahihah (no. 2726), bahkan pendapat ini juga dikuatkan oleh Lajnah Daimah yang diketahui oleh samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwanya (11/438,439) dan pada hal. 447 dinyatakan bahwa ini adalah pendapat Hanabilah dan sejumlah para fukaha. Lantas bagaimana dikatakan bid’ah, fahamilah!

AQIQAH SETELAH DEWASA

Pertanyaan
Bagaimana hukum aqiqah terhadap anak yang kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia telah dewasa?

Jawaban
Dalam masalah ini, Ulama berselisih menjadi dua pendapat.

1. Orang yang tidak diaqiqahi sewaktu kecil, dianjurkan untuk mengaqiqahi dirinya di waktu dewasa. Ini merupakan pendapat ‘Atha rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah, dan Muhammad bin Sirin rahimahullah, al-Hafizh al-Iraqi rahimahullah menyebutkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah berpendapat orang itu diberi pilihan untuk mengaqiqahi dirinya. al-Qaffal asy-Syasyi dari kalangan Syafi’iyyah menganggap baik orang itu mengaqiqahi dirinya diwaktu dewasa. Ini juga satu riwayat dari Imam Ahmad, asy-Syaukani rahimahullah mengakui pendapat ini dengan syarat hadits yang dibawakan dalam bab ini shahih.

2. Orang yang tidak diaqiqahi sewaktu kecil tidak (perlu) mengaqiqahi dirinya. ini merupakan pendapat Malikiyyah. Mereka berkata, “Sesungguhnya aqiqah untuk orang dewasa tidak dikenal di Madinah. Ini juga satu riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada Imam Syafi’i rahimahullah, akan tetapi penisbatannya dilemahkan oleh Imam Nawawi rahimahullah, al-Hafizh Ibnu Hajar, dan lainnya. Yang benar dari Imam Syafi’i rahimahullah adalah memberikan pilihan sebagaimana disebutkan pada pendapat pertama. (Lihat al-Mughni 9/461, al-Majmu’ 8/431, Fathul Bari 12/12-13, Tharhut Tats-rib 5/209 dll)

Yang rajih (lebih kuat) dalam masalah ini adalah pendapat pertama, berdasarkan hadits berikut ini.

عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدِ مَا بُعِثَ نَبِيًا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya sendiri setelah menjadi nabi.

Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dengan dua jalur riwayat, yang satu sangat dha’if (sangat lemah), dan yang lain hasan sehingga hadits ini bisa dijadikan hujjah (pegangan). Oleh karena itu, banyak ulama Salaf yang berpendapat dengan kandungan hadits ini.

Namun sebagian Ulama dan ustadz yang mulia mendhai’ifkan hadits ini. Hal ini tampaknya, karena mereka baru mendapatkan satu jalur periwayatan hadits yang memang dha’if tersebut. Syaikh al-Albani rahimahullah menjelaskan kedudukan hadits ini dengan panjang lebar dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah no. 2726. Inilah ringkasan dari penjelasan Syaikh al-Albani rahimahullah.

Hadits ini diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dengan dua jalur.

1. Dari Abdullah bin Muharrar, dari Qatadah, dari Anas bin Malik.
Diriwayatkan oleh Abdur Rozzaq dalam al-Mushannaf 4/329/7960, Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afa 2/33, al-Bazzar dalam Musnadnya 2/74/1237 Kasyful Astar ; dan Ibnu Adi dalam al-Kamil lembaran ke 209/1. Jalur ini juga disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam biografi Abdullah bin Muharrar di dalam kitab al-Mizan. Dalam at-Talkhis (4/147) al-Hafizh ibnu Hajar menisbatkan riwayat ini kepada al-Baihaqi.

Jalur ini sangat dha’if karena perawi yang bernama Abdullah bin Muhrarrar adalah sangat dha’if.

2. Dari al-Haitsam bin Jamil ; dia berkata, Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas menuturkan kepada kami, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik.
Jalan periwayatan ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam kitab Musykilul Atsar 1/461, ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath 1/55/2, no. 976 dengan penomoran syaikh al-Albani ; Ibnu Hazm dalam al-Muhalla 8/321, adh-Dhiya al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah lembaran 71/1. Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Ini sanadnya hasan. Para perawinya dijadikan hujjah oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahiihnya, selain al-Haitsam bin Jamil, dan dia ini tsiqah (terpercaya) hafizh (ahli hadits), termasuk guru Imam Ahmad”.

Kesimpulannya : Orang yang tidak diaqiqahi sewaktu kecil disunatkan untuk mengaqiqahi dirinya di waktu dewasa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IV/1432H/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Anda Ingin Meng aqiqahkan Putra Dan Putri Anda?
Hubungi Tenaga Profesional Kami Dapur Aqiqah Untuk Mendapatkan Info Harga dan info lainnya di:
Telp. 085780267758, 081296581239
WhatsApp.085780267758 LINE.085780267758

Link : http://dapur-aqiqah.com/seputar-aqiqah/aqiqah-di-daerah-bekasi-085773745147/

Menjaga Makanan Saat Hamil

Menjaga Makanan Saat Hamil

Menjaga Makanan Saat Hamil-Ketika si kecil mulai terasa kehadirannya, bersyukurlah dengan kenikmatan yang Allooh karuniakan kepada Anda. Betapa banyak pasangan suami – istrri yang merindukan kehadiran seorang anak, namun Allooh belum juga mentakdirkannya, Allooh telah membukakan banyak pintu kebaikan bagi Anda melalui kehadiran seorang anak.

Bersyukur adalah menggunakan nikmat yang Allooh limpahkan tersebut untuk sesuatu yang Allooh cintai dan Alloh Ridhoi. Salah satu bentuk bersyukur kepada Allooh adalah menjaga kesehatran Anda dan janin didalam rahim Anda, Agar ia tumbuh dengan sempurna.

Pentingan nya menjaga Makanan saat hamil, terutama makanan dan minuman yang halal, baik, sehat dan bergizi adalah langkah utama untuk memelihara kesehatan lahir bathin. Allooh Subhanallooh Wata’ala Berfirman  :
“Makanlah Diantara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan barang siapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah dia (QS Thoha : 81)” (more…)

Page 1 of 712345...Last »